Sunday, May 12, 2013


Bob Marley


Bob Marley
Black and white picture of a man with long dreadlocks playing the guitar on stage.
Bob Marley performing in concert, circa 1980.
Background information
Birth nameNesta Robert Marley
Also known asTuff Gong
Born6 February 1945
Nine MileSaint AnnJamaica
Died11 May 1981 (aged 36)
MiamiFloridaU.S.
GenresReggaeskarocksteady
OccupationsSinger-songwritermusician,guitarist
InstrumentsVocals, guitar, piano, saxophone, harmonica, percussion, horn
Years active1962 – 1981
LabelsStudio OneUpsetterTuff Gong
Associated actsBob Marley & The Wailers
Wailers Band
The Upsetters
I Threes
Websitebobmarley.com
Nesta Robert "BobMarleyOM (6 February 1945 – 11 May 1981) was a Jamaicansinger-songwriter and musician. He was the rhythm guitarist and lead singer for the ska,rocksteady and reggae bands The Wailers (1963-1974) and Bob Marley & The Wailers(1974–1981). Marley remains the most widely known and the best-selling performer of reggae music, having sold more than 75 million albums worldwide.[1] He is also credited with helping spread both Jamaican music and the Rastafari movement to a worldwide audience.[2]
Marley's music was heavily influenced by the social issues of his homeland, and he is considered to have given voice to the specific political and cultural nexus of Jamaica.[3] His best-known hits include "I Shot the Sheriff", "No Woman, No Cry", "Could You Be Loved", "Duppy Conqueror", "Stir It Up", "Get Up Stand Up", "Jamming", "Redemption Song", "One Love", and "Three Little Birds",[4] as well as the posthumous releases "Buffalo Soldier" and "Iron Lion Zion". The compilation album Legend (1984), released three years after his death, is reggae's best-selling album, going ten times Platinum which is also known as one Diamond in the U.S.,[5] and selling 25 million copies worldwide.

BIOGRAFI USTAD JEFRY, MANTAN PECANDU YANG TOBAT DAN KINI MENJADI USTAD YANG TERKENAL

Ustadz ganteng ini laris diminta berdakwah. Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya yang sangat memikat mulai nomor ini.
Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Baiklah, aku bersedia membagi pengalaman hidupku pada para pembaca. Insya Allah, ada gunanya.
Aku lahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta. Waktu aku lahir, keluargaku memang sudah menetap di Jakarta. Aku lahir sebagai anak tengah, maksudku anak ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandungku laki-laki, dan si bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan kami berlima cukup dekat. Sekadar bertengkar, sih, wajar saja. Apalagi, jarak usia kami tidak berjauhan.
Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu aku biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik kami berlima dengan sangat keras. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa salat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik kami secara ketat.
Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan kami bila memang berbuat salah.
Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuatku menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, aku pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua.
BERKEPRIBADIAN GANDA
Lulus SD, Apih memasukkanku dan kedua kakakku ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Beliau ingin kami mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalanku.
Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Aku tidak tahu ungkapan itu benar atau tidak. Yang jelas hal itu berlaku padaku. Sebagai anak tengah, aku sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, aku sering berulah.
Salah satu kenalakanku, di saat yang lain salat, aku diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera.
Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren.
Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan burukku bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, aku sudah bosan bersekolah di pesantren.
Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.

BERITA ALM UST JEFRI


Jefri Al Buchori BERITA TERKINI, Kabar meninggalnya Ustaz Jefri Al Buchori mengejutkan banyak orang. Menurut kerabatnya, pria yang biasa disapa UJ itu meninggal dunia dalam satu kecelakaan tunggal. Sekitar Jumat (26/4) dini hari, UJ mengendarai motor sport dari arah Kemang menuju ke kawasan Pondok Indah. Ketika berada di sekitar Jalan Gedong Raya, UJ menabrak pohon palem kemudian menghajar pembatas jalan. Dia dikabarkan mengalami luka di bagian wajah. Warga sekitar langsung membawa almarhum menuju RS Pondok Indah. Setelah menjalani perawatan selama beberapa jam, UJ dinyatakan meninggal dunia. Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka dan akan dimakamkan di pemakaman umum Karet Bivak. Sumber: Republika.online
Perhatianmu Sobat

Perhatianmu Sobat...
Sungguh menyentuh hatiku
Menggema dalam kalbuku
Membangunkanku dari tidur ku

Perhatianmu Sobat...
Sungguh luar biasa
Tak ternilai...berjuta rasanya
Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata

Perhatianmu Sobat...
Bahkan terkadang melebihi orang terdekat sekalipun
Kau mengerti isi hatiku
Meskipun tak terucap oleh mulutku

Terimakasih Sobat...
Kau membuat hidupku lebih berwarna
Kau menambah indahnya pelangi di hidupku
Yah...kau selalu menjadi malaikat kecil yang diutus oleh Nya untuk menolongku

Terimakasih Sobat...
Semoga Yang Maha Kuasa membalas semua kebaikanmu
Yang tulus keluar dari hatimu
Terimakasih Sobat...

A Thausand yers

Heartbeats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
I have died everyday waiting for you

                grenade
Easy come, easy go, that’s just how you live
Oh, take, take, take it all but you never give
Should’ve known you was trouble from the first kiss
Had your eyes wide open, why were they open?
Gave you all I had and you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, you did
To give me all your love is all I ever asked
‘Cause what you don’t understand is
I’d catch a grenade for ya
Throw my hand on a blade for ya
I’d jump in front of a train for ya
You know I’d do anything for ya